Tampilkan postingan dengan label SUBHAN SHABRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUBHAN SHABRI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2020

Very Amazing YearS


Very Amazing YearS

For the very amazing years;
I have passed the roads of life;
Sometimes I passed smooth roads;
Some other time I passed stony sandy roads;
And even I had to climb up and walk through desert
And fell down several times.
Some other travelers did not care;
But there were still some others who gave their hands;
Pulling me up to walk again.
Many things happened along the trip of life;
But one thing for sure;
The more I walked, the stronger I became, and the more experiences I got.
I feel very grateful;
For having been in this very amazing years of life;
For having been together with kind travelers.
Indeed, this trip has not finished yet;
The very amazing years of life keep going on;
Walking through good and bad roads of life;
Facing, getting in touch with kinds of other travelers of life;
Doing and sharing good things as the mission of life;
Feeling grateful to God Who controls this trip of life;
Being thankful to other travelers;
And of course preparing myself to be ready to finish this trip of life.
  
(Subhan Shabri: February 25, 2020)

Sabtu, 11 Januari 2020

Buah Kebaikan

Suatu kali saat saya maish mengajar di sebuah madrasah aliyah, ada seorang siswa saya yang tidak mengerjakan tugas di kelas. Ketika saya tanya, dia mengaruk kepala sambil berkata lirih "p*nt*k" (maaf saya tidak bs mengedit bagian ini karena ini bagian inti cerita). Walaupun lirih saya bisa mendengarkannya. Saya kaget dan marah, beraninya dia mengucapkan itu didepan saya. Siswa tsb saya suruh keluar dan mengatakan, jangan pernah masuk ke kelas saya sampai kamu datang dengan orang tua mu untuk meminta maaf.
Anak tsb tidak masuk ke kelas saya hampir dua minggu. Sampai suatu hari waka kesiswaan datang ke saya. "Mister, anak itu datang kepada saya. Dia merasa menyesal, dia mau minta maaf tapi takut, dan orang tuanya bekerja di daerah lain dan tidak mungkin untuk datang. Ibuk waka memohon keikhlasan saya untuk memaafkan siswa tsb.
"Saya tidak bisa terima Buk. Beraninya dia berkata begitu!" Jawab saya. "Anak itu saya maafkan asal org tuanya datang."
"Mister lupa ya kalau dia orang Baser*h," (nama satu daerah di sekitar kota saya yang dalam kesehariannya mereka sering mengucapkan kata p*nt*k dan tidak menganggap kata tsb sesuatu yg tabu).
"Kalau di kampungnya terserah dia Buk, dan ini di sekolah", kata saya bertahan. Tapi Ibuk waka tetap memohon dan saya segan dan maklum.
Akhirnya saya bilang suruh anak itu menghadap saya dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Dia saya maafkan.

Satu semester berlalu, si siswa tadi memang bermasalah dalam belajar, termasuk dalam pelajaran saya. Nilai akhir semestinya tidak tuntas. Tapi mengingat dia pernah bermasalah dengan saya (dan sudah saya maafkan), saya beri dia nilai tuntas; saya takut nanti saya disebut pendendam. Padahal ada beberapa temannya yang tidak tuntas dan tetap saya beri nilai tidak tuntas.
Sepertinya dia selamat gara-gara dia pernah bermasalah dengan saya.

Dua tahun berlalu...
Saya melanjutkan kuliah di sebuah PTN di Pekanbaru. Pada suatu hari saya ada urusan di kampus, pas waktu itu libur perkuliahan sehingga kampus cukup sepi. Saya harus memfotokopi beberapa dokumen. Dan listrik sekampus itu mati. Waduh, bagaimana ini, fotokopi itu hrs saya serahkan hari itu juga, dan saya harus segera kembali ke Taluk Kuantan. Dalam kebingungan sedang mencari solusi, seseorang menyapa saya. "Bapak, lagi ngapain?" Saya menoleh. Dia adalah siswa yang pernah bermasalah dengan saya dulu yang nilainya selamat gara-gara saya takut dibilang pendendam.
Saya ceritakan kepadanya masalah saya.
"Ayo pak, saya antar Bapak ke tempat fotokopi yang ada jensetnya. Ada di kampus lain kira-kira dua kilometer dari kampus ini. Ayo Pak, naik ke motor saya."
Dengan rasa sangat bersyukur saya naik ke motornya.
Dalam perjalanan dia bercerita, "Saya sangat berterimakasih kepada Bapak atas memaafkan saya, bahkan memberi saya nilai tuntas. Mungkin ini cara saya membalas kebaikan Bapak. Dan jika tempat fotokopi itu tutup, saya akan carikan tempat fotokopi lain."
I was speechless. Ini cara Allah merangkai kita untuk berbuat kebaikan dan suka memaafkan. Apa yang dilakukan si siswa tsb pas bertemu saya, tapi waktu di madrasah itu saya tidak memaafkan dia?
Saya bersyukur pernah memaafkannya, membantu (nilainya), dan kemudian saya bersyukur dibantu oleh siswa tsb.
Ada buah dari setiap kebaikan yg pernah kita tanam (lakukan).
Kadang kita harus maklum dengan keadaan org lain dan tidak kaku dengan aturan yang ada.

A true story by Mr SS.
(Hasil kerja ketukan dua jari jempol dalam bus travel dalam perjalanan dari Padang ke Taluk Kuantan. Kejadian yang saya alami di kampus seharian tadi dengan segala suka (haru) dan duka (kecewa) nya membuat saya ingat kejadian ini.

Jan 10, 2020

Senin, 18 November 2019


MAHASISWA SUPER
Alkisah di suatu tempat ada sekelompok suku terkebelakang yang masih kanibal. Hal itu membuat warga yang tinggal di sekitar tempat itu menjadi cemas dan ketakutan. Kemudian mereka melaporkan hal itu kepada pemerintah setempat. Akhirnya pemerintah mengambil kebijakan; anak kepala suku kanibal itu diberi pelatihan atau pendidikan singkat secara gratis. Dengan harapan, sebagai calon pengganti ayahnya menjadi kepala suku,  nantinya dia akan bisa member perubahan terhadap sukunya. Dia nantinya akan memberitahukan kepada rakyatnya bahwa menjadi kanibal itu tidak baik. Ada banyak makanan lain yang lebih baik dan lebih enak dibandingkan daging manusia. Dia diperkenalkan dengan daging sapi, kerbau, kambing ayam itik dan lain sebagainya. Dia juga diajarkan “table manner”. Intinya bagaimana suku tersebut tidak kanibal lagi.
Setelah pelatihan selesai, si anak kepala suku tersebut kembali ke kampungnya. Masyarakat di kampungnya bertanya, apa yang didapatkannya selama pendidikannya.
"Banyak yang aku dapatkan," katanya. "Aku diajarkan memasak dengan baik. Aku diajarkan cara makan yang baik; bagaimana cara menggunakan sendok, garpu, sumpit, dll. Jadi, aku akan ajarkan ke kalian semua cara memasak daging manusia dengan baik, bagaimana cara menggunakan sendok, garpu, sumpit tsb untuk makan daging manusia."
Ternyata pendidikan yang didapatkan oleh anak kepala suku itu tidak berhasil merubah karakter dasar atau kekanibalan anak kepala suku tsb. Bahkan pendidikan yang didapatkannya hanya membuat dia akan lebih bisa menikmati kekanibalannya.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah cerita diatas hanya dongeng saja, atau malah benar-benar terjadi walaupun bukan konteks kanibal?
Konsep dari pendidikan atau edukasi adalah seperti yang kita baca dalam buku-buku filsafat; ilmu yang didapat oleh tiap pembelajar akan membuatnya menjadi cinta terhadap kebenaran. Semakin banyak yang dipelajari oleh seseorang maka semakin suka, semakin cinta orang tersebut untuk melakukan sesuatu yang benar. Artinya jika proses pendidikan berjalan dengan baik, akan muncullah produk-produk pendidikan yang mempunyai karakter seperti yang tercantum dalam Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Artinya pendidikan bukan hanya sebuah proses pencerdasan otak dari para peserta didik semata, tapi lebih dari itu adalah pendalaman konsep dan aplikasi relijius, pematangan sikap dan kepribadian, pengasahan skill atau keterampilan, dan lain sebagainya yang membuat orang yang menjalankan proses pendidikan tersebut semakin sesuai dengan konsep cinta kebenaran yang artinya bahwa proses pendidikan yang dijalaninya telah berhasil membangun karakter orang tersebut menjadi lebih baik.
Lantas bagaimana asusmsi kita terhadap pendidikan di perguruan tinggi? Apakah perguruan tinggi dengan peserta didik yang mendapat sebutan “maha” siswa telah perhasil menjadi pabrik pencetak orang-orang yang telah membuat perubahan dalam karakternya, dari buruk menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik? Pertanyaan ini logis sekali terlontarkan karena sebelum memasuki dunia perguruan tinggi, para mahasiswa tersebut sudah menjalani pendidikan dasar dan menengah selama duabelas tahun. Katakan bahwa ternyata duabelas tahun itu tidak berbekas bagi sebagian dari mereka, maka setidaknya ketika mereka mulai menyandang prediket mahasiswa, maka saat itu muncul sebuah consciousness (kesadaran) bahwa ini saatnya saya akan melakukan perubahan. Tentu saja konteks perubahan disini adalah perubahan yang tidak hanya sesuai dengan undan-undang diatas, bahkan sesuai dengan tujuan kerasulan Muhammad SAW.; memperbaiki akhlak (karakter). Dengan adanya sesadaran untuk melakukan perubahan tersebut, tentu memang layaklah mahasiswa mendapat sebutan the agent of change, agen perubahan. Bagaimana bisa mahasiswa itu akan bisa merubah dunia, jika ternyata dia belum mampu bahkan belum berniat untuk merubah dirinya sendiri.
Lebih mengerucut ke bawah, kita coba lihat tepat dimana mading ini bernaung, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, bahwa disini ada mahasiswa “super”. Mahasiswa calon pendidik plus ada tambahan islami. Artinya para mahasiswa yang sedang belajar disini adalah orang-orang yang nantinya akan menjadi orang-orang yang tidak hanya diharapkan cerdas otaknya, tapi juga baik karakternya untuk bisa menjadi model, panutan bagi siswanya nantinya. Sebagai guru agama misalnya, apakah si mahasiswa (atau mahasiswi) hanya tahu materi-materi pembelajaran agama sebagai mata ajar di dalam kelas saja tanpa ada aplikasi dari konsep keagamaan (baca: keislaman) itu dalam kehidupannya sehari-hari atau bagaimana? Sedikit berani, kita coba lihat sebuah contoh, seorang mahasiswi FTK prodi PAI mempunyai akun Facebook; profile picture-nya foto mesranya dengan cowoknya, statusnya berpacaran. Astaghfirullahal aziim. Mungkin yang prodinya bukan PAI merasa aman; toh aku bukan calon guru agama. Lupakah dia bahwa disamping mata kuliah kejuruan yang dia dapat, dia juga mendapat mata kuliah agama yang tidak sedikit. Anda sedang disiapkan untuk menjadi guru kimia atau ekonomi yang islami.
Para mahasiswa yang dididik secara andragogis (pendidikan terhadap orang dewasa) dan bukan pedagogis (pendidikan terhadap anak-anak) tentunya bisa mempunyai thought (pemikiran) terhadap apa yang sedang dia lakukan dan apa yang ingin dia capai. Nah, sinkron tidak keduanya itu? Tentunya keingnan untuk menjadi guru yang baik dan hebat ada pada diri kita masing-masing. Pasti keinginan tersebut bisa tercapai dengan mulai melakukan perubahan; menimbulkan kesadarn untuk menjadi lebih baik. Atau pendidkan akan hanya akan menjadi suatu jalan untuk meningkatkan strata social; bahwa kita jadi sarjana demi kerja yang lebih baik? Jika demiak adanya, tentu anak kepala suku kanibal tadi tidak sendirian; dia punya teman memang tidak kanibal, tapi sama-sama tidak ada perubahan karakter dari pendidikan yang dilaluinya.
Mudah-mudahan tulisan ini bukan bentuk kelancangan dari penulis, tapi bukti sense of belonging (rasa memiliki) dan sense of loving (rasa sayang) terhadap kampus milik kita bersama ini yang tentu saja mempunyai semanagt untuk terus maju dan berkembang tentunya secara kualitas dan kuantitas. Mari berubah secara karakter (berhijrah). Semoga Allah mudahkan jalan bagi kita untuk itu, Aamiin.
(Subhan Shabri, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang, pelaku dan pemerhati pendidikan). Tulisan ini juga diposting di blog penulis subhanshabri.blogspot.com Kritik dan saran silahkan sampaikan ke email subhanshabri@gmail.com

Catatan:
Suatu hari redaktur mading ini bertanya kepada penulis, “Sir, is it okay for you to contribute your writing in our wall magazine?” Saya langsung jawab, “Why not?” Toh saya sudah banyak tulis artikel. Tapi ternyata artikel yang diminta tentang peran pendidkan dalam pembentukan karakter. “Wah, nulis lagi nih”, pikir saya. “But it’s okay. I like writing.” Dan inilah tulisan cepat disela-sela sibuk menulis hasil penelitian tesis. (disempat-sempatin)

Kamis, 18 Mei 2017



The Lion and the Rabbit
A cruel lion lived in the forest. Every day, he killed and ate a lot of animals. The other animals were afraid the lion would kill them all.
The animals told the lion, “Let’s make a deal. If you promise to eat only one animal each day, then one of us will come to you every day. Then you don’t have to hunt and kill us.”
The plan sounded well thought-out to the lion, so he agreed, but he also said, “If you don’t come every day,
I promise to kill all of you the next day!”
Each day after that, one animal went to the lion so that the lion could eat it. Then, all the other animals were safe.
Finally, it was the rabbit’s turn to go to the lion. The rabbit went very slowly that day, so the lion was angry when the rabbit finally arrived.
The lion angrily asked the rabbit, “Why are you late?”
“I was hiding from another lion in the forest. That lion said he was the king, so I was afraid.”
The lion told the rabbit, “I am the only king here! Take me to that other lion, and I will kill him.
The rabbit replied, “I will be happy to show you where he lives.”
The rabbit led the lion to an old well in the middle of the forest. The well was very deep with water at the bottom. The rabbit told the lion, “Look in there. The lion lives at the bottom.”
When the lion looked in the well, he could see his own face in-the water. He thought that was the other lion.
Without waiting another moment, the lion jumped into the well to attack the other lion. He never came out.
All of the other animals the forest were very pleased with the rabbit’s clever trick.
(Source: Paul Nation, 4000 Essential English Words 1, 2009)

Kamis, 23 April 2015

JIMAT USTADZ YANG BIJAK



JIMAT USTADZ YANG BIJAK
By MR SS
Alkisah ada seorang pedagang yang dagangannya tidak laku-laku. Sementara dia melihat pedangang lain disekitarnya tidak demikian. Padahal dia sudah memakai banyak jimat penglaris yang dia dapat dari beberapa dukun. Dia menyimpulkan bahwa dukun-dukun itu tidak hebat.
“Kayaknya aku harus minta jimat pada ustadz nih. Ustadz kan orang alim, tentu jimat dari ustadz pasti lebih hebat,” pikirnya.
Kemudian dia mendatangi seorang ustadz.
“Assalamu’alaikum, ustadz!” teriaknya dari luar rumah sang ustadz.
“Wa alaikum salaam warohmatullaahi wabarokaatuh. Silahkan masuk,” jawab sang ustadz.
Si pedagang menceritakan keadaan yang sedang dia hadapi, dan apa tujuannya datang.
“Begitulah ustadz, saya mau minta bantuan pada ustadz. Berilah saya jimat agar dagangan saya laris kembali, ustadz.” Katanya sambil memelas.
“Astaghfirullaahal’adziim!,” seru ustadz itu, “Saudaraku, jimat itu sesat. Hukumnya syirik, dan syirik adalah dosa yang tidak diampuni Allah. Jadi, sebaiknya, ....”
“Ustadz,” potong pedagang tersebut, “Saya kemari tidak minta ceramah. Saya datang minta bantuan ustadz, kalau ustadz tidak bisa bantu, tidak apa-apa. Saya pergi dulu. Saya bisa cari ustadz yang lain.” Dia langsung pergi tanpa mengucapkan salam.
Kemudian dia mendatangi ustadz yang lain. Dia menceritakan cerita yang sama ditambah lagi dengan apa yang terjadi dirumah ustadz pertama tadi.
“Itulah ustadz, bukannya ngasih jimat, eh malah ceramahin saya. Nah, ustadz bisa bantu saya kan?”
“Bisa, insya Allah,” jawab ustadz tersebut. “Ambil ini,” katanya sambil memberikan selembar kertas yang sudah dilipat kecil-kecil dan dibungkus dengan plastik.
“Oh terima kasih ustadz,” dia menerima kertas itu dengan wajah berseri-seri. “Ada syarat dan pantangannya ustadz?”
“Tentu saja. Pantangannya tidak boleh bohong, syaratnya anda harus sholat lima waktu. Tidak boleh tinggal satu kalipun. Satu minggu lagi anda kembali kesini. Anda paham?”
“Mudah itu ustadz. Jangan khawatir. Saya tidak akan berbohong lagi, he he biasanya emang sering sih ustadz. Dan, saya akan sholat terus. Saya janji, minggu depan saya datang lagi,” jelasnya.
Satu minggu kemudian si pedagang datang lagi ke rumah sang ustadz.
“Alhamdulillah, ustadz, dagangan saya sudah mulai laris lagi. Waduh, jimat ustadz emang sakti,” kata dengan bersemangat.
“Berarti anda tidak bohong lagi dan sholat lima waktunya tidak ada yang tinggal?” Tanya sang ustadz.
“Tentu saja ustadz. Kan itu syarat dan pantangannya,” jawabnya. “Apa lagi yang harus saya lakukan, ustadz?”
“Perbanyak sholat sunat, terutama sholat Dhuha. Cari buku cara melaksanakannya. Minggu depan anda kembali kesini.”
Tiap kali datang sang ustadz menyuruh pedagang tersebut untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang seharusnya dilakuan seperti bersedekah, puasa sunat, membaca Qur’an, dan lain-lain. Pedagang itu selalu patuh terhadap apa yang disuruh sang ustadz.
Suatu kali si pedagang itubertanya kepada ustadz tersebut.
“Ngomong-ngomong ustadz, kayaknya jimat yang ustadz kemarin gak ada gunanya ya?”
“Anda benar, dan anda sudah sadar berarti.  Rezeki yang anda dapatkan merupakan hasil dari ibadah-ibadah yang anda lakukan.  Silahkan buka kertas kemarin. Tidak ada tulisan apa-apa. Itu hanya akal-akalan saya saja. Sesungguhnya apa yang dikatakan ustadz yang dulu itu benar; memakai jimat itu syirik. Jika seseorang meninggal dalam keadaan syirik, maka dia akan kekal di neraka. Nah, sekarang yang perlu anda lakukan adalah merubah niat ibadah anda, bukan karena syarat ataupun pantangan jimat, tapi karena Allah SWT.” Ustadz tersebut menjelaskan. (Wallahu alam bisawab).