Tampilkan postingan dengan label MR SS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MR SS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2020

Very Amazing YearS


Very Amazing YearS

For the very amazing years;
I have passed the roads of life;
Sometimes I passed smooth roads;
Some other time I passed stony sandy roads;
And even I had to climb up and walk through desert
And fell down several times.
Some other travelers did not care;
But there were still some others who gave their hands;
Pulling me up to walk again.
Many things happened along the trip of life;
But one thing for sure;
The more I walked, the stronger I became, and the more experiences I got.
I feel very grateful;
For having been in this very amazing years of life;
For having been together with kind travelers.
Indeed, this trip has not finished yet;
The very amazing years of life keep going on;
Walking through good and bad roads of life;
Facing, getting in touch with kinds of other travelers of life;
Doing and sharing good things as the mission of life;
Feeling grateful to God Who controls this trip of life;
Being thankful to other travelers;
And of course preparing myself to be ready to finish this trip of life.
  
(Subhan Shabri: February 25, 2020)

Sabtu, 11 Januari 2020

Buah Kebaikan

Suatu kali saat saya maish mengajar di sebuah madrasah aliyah, ada seorang siswa saya yang tidak mengerjakan tugas di kelas. Ketika saya tanya, dia mengaruk kepala sambil berkata lirih "p*nt*k" (maaf saya tidak bs mengedit bagian ini karena ini bagian inti cerita). Walaupun lirih saya bisa mendengarkannya. Saya kaget dan marah, beraninya dia mengucapkan itu didepan saya. Siswa tsb saya suruh keluar dan mengatakan, jangan pernah masuk ke kelas saya sampai kamu datang dengan orang tua mu untuk meminta maaf.
Anak tsb tidak masuk ke kelas saya hampir dua minggu. Sampai suatu hari waka kesiswaan datang ke saya. "Mister, anak itu datang kepada saya. Dia merasa menyesal, dia mau minta maaf tapi takut, dan orang tuanya bekerja di daerah lain dan tidak mungkin untuk datang. Ibuk waka memohon keikhlasan saya untuk memaafkan siswa tsb.
"Saya tidak bisa terima Buk. Beraninya dia berkata begitu!" Jawab saya. "Anak itu saya maafkan asal org tuanya datang."
"Mister lupa ya kalau dia orang Baser*h," (nama satu daerah di sekitar kota saya yang dalam kesehariannya mereka sering mengucapkan kata p*nt*k dan tidak menganggap kata tsb sesuatu yg tabu).
"Kalau di kampungnya terserah dia Buk, dan ini di sekolah", kata saya bertahan. Tapi Ibuk waka tetap memohon dan saya segan dan maklum.
Akhirnya saya bilang suruh anak itu menghadap saya dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Dia saya maafkan.

Satu semester berlalu, si siswa tadi memang bermasalah dalam belajar, termasuk dalam pelajaran saya. Nilai akhir semestinya tidak tuntas. Tapi mengingat dia pernah bermasalah dengan saya (dan sudah saya maafkan), saya beri dia nilai tuntas; saya takut nanti saya disebut pendendam. Padahal ada beberapa temannya yang tidak tuntas dan tetap saya beri nilai tidak tuntas.
Sepertinya dia selamat gara-gara dia pernah bermasalah dengan saya.

Dua tahun berlalu...
Saya melanjutkan kuliah di sebuah PTN di Pekanbaru. Pada suatu hari saya ada urusan di kampus, pas waktu itu libur perkuliahan sehingga kampus cukup sepi. Saya harus memfotokopi beberapa dokumen. Dan listrik sekampus itu mati. Waduh, bagaimana ini, fotokopi itu hrs saya serahkan hari itu juga, dan saya harus segera kembali ke Taluk Kuantan. Dalam kebingungan sedang mencari solusi, seseorang menyapa saya. "Bapak, lagi ngapain?" Saya menoleh. Dia adalah siswa yang pernah bermasalah dengan saya dulu yang nilainya selamat gara-gara saya takut dibilang pendendam.
Saya ceritakan kepadanya masalah saya.
"Ayo pak, saya antar Bapak ke tempat fotokopi yang ada jensetnya. Ada di kampus lain kira-kira dua kilometer dari kampus ini. Ayo Pak, naik ke motor saya."
Dengan rasa sangat bersyukur saya naik ke motornya.
Dalam perjalanan dia bercerita, "Saya sangat berterimakasih kepada Bapak atas memaafkan saya, bahkan memberi saya nilai tuntas. Mungkin ini cara saya membalas kebaikan Bapak. Dan jika tempat fotokopi itu tutup, saya akan carikan tempat fotokopi lain."
I was speechless. Ini cara Allah merangkai kita untuk berbuat kebaikan dan suka memaafkan. Apa yang dilakukan si siswa tsb pas bertemu saya, tapi waktu di madrasah itu saya tidak memaafkan dia?
Saya bersyukur pernah memaafkannya, membantu (nilainya), dan kemudian saya bersyukur dibantu oleh siswa tsb.
Ada buah dari setiap kebaikan yg pernah kita tanam (lakukan).
Kadang kita harus maklum dengan keadaan org lain dan tidak kaku dengan aturan yang ada.

A true story by Mr SS.
(Hasil kerja ketukan dua jari jempol dalam bus travel dalam perjalanan dari Padang ke Taluk Kuantan. Kejadian yang saya alami di kampus seharian tadi dengan segala suka (haru) dan duka (kecewa) nya membuat saya ingat kejadian ini.

Jan 10, 2020

Senin, 18 November 2019


MAHASISWA SUPER
Alkisah di suatu tempat ada sekelompok suku terkebelakang yang masih kanibal. Hal itu membuat warga yang tinggal di sekitar tempat itu menjadi cemas dan ketakutan. Kemudian mereka melaporkan hal itu kepada pemerintah setempat. Akhirnya pemerintah mengambil kebijakan; anak kepala suku kanibal itu diberi pelatihan atau pendidikan singkat secara gratis. Dengan harapan, sebagai calon pengganti ayahnya menjadi kepala suku,  nantinya dia akan bisa member perubahan terhadap sukunya. Dia nantinya akan memberitahukan kepada rakyatnya bahwa menjadi kanibal itu tidak baik. Ada banyak makanan lain yang lebih baik dan lebih enak dibandingkan daging manusia. Dia diperkenalkan dengan daging sapi, kerbau, kambing ayam itik dan lain sebagainya. Dia juga diajarkan “table manner”. Intinya bagaimana suku tersebut tidak kanibal lagi.
Setelah pelatihan selesai, si anak kepala suku tersebut kembali ke kampungnya. Masyarakat di kampungnya bertanya, apa yang didapatkannya selama pendidikannya.
"Banyak yang aku dapatkan," katanya. "Aku diajarkan memasak dengan baik. Aku diajarkan cara makan yang baik; bagaimana cara menggunakan sendok, garpu, sumpit, dll. Jadi, aku akan ajarkan ke kalian semua cara memasak daging manusia dengan baik, bagaimana cara menggunakan sendok, garpu, sumpit tsb untuk makan daging manusia."
Ternyata pendidikan yang didapatkan oleh anak kepala suku itu tidak berhasil merubah karakter dasar atau kekanibalan anak kepala suku tsb. Bahkan pendidikan yang didapatkannya hanya membuat dia akan lebih bisa menikmati kekanibalannya.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah cerita diatas hanya dongeng saja, atau malah benar-benar terjadi walaupun bukan konteks kanibal?
Konsep dari pendidikan atau edukasi adalah seperti yang kita baca dalam buku-buku filsafat; ilmu yang didapat oleh tiap pembelajar akan membuatnya menjadi cinta terhadap kebenaran. Semakin banyak yang dipelajari oleh seseorang maka semakin suka, semakin cinta orang tersebut untuk melakukan sesuatu yang benar. Artinya jika proses pendidikan berjalan dengan baik, akan muncullah produk-produk pendidikan yang mempunyai karakter seperti yang tercantum dalam Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Artinya pendidikan bukan hanya sebuah proses pencerdasan otak dari para peserta didik semata, tapi lebih dari itu adalah pendalaman konsep dan aplikasi relijius, pematangan sikap dan kepribadian, pengasahan skill atau keterampilan, dan lain sebagainya yang membuat orang yang menjalankan proses pendidikan tersebut semakin sesuai dengan konsep cinta kebenaran yang artinya bahwa proses pendidikan yang dijalaninya telah berhasil membangun karakter orang tersebut menjadi lebih baik.
Lantas bagaimana asusmsi kita terhadap pendidikan di perguruan tinggi? Apakah perguruan tinggi dengan peserta didik yang mendapat sebutan “maha” siswa telah perhasil menjadi pabrik pencetak orang-orang yang telah membuat perubahan dalam karakternya, dari buruk menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik? Pertanyaan ini logis sekali terlontarkan karena sebelum memasuki dunia perguruan tinggi, para mahasiswa tersebut sudah menjalani pendidikan dasar dan menengah selama duabelas tahun. Katakan bahwa ternyata duabelas tahun itu tidak berbekas bagi sebagian dari mereka, maka setidaknya ketika mereka mulai menyandang prediket mahasiswa, maka saat itu muncul sebuah consciousness (kesadaran) bahwa ini saatnya saya akan melakukan perubahan. Tentu saja konteks perubahan disini adalah perubahan yang tidak hanya sesuai dengan undan-undang diatas, bahkan sesuai dengan tujuan kerasulan Muhammad SAW.; memperbaiki akhlak (karakter). Dengan adanya sesadaran untuk melakukan perubahan tersebut, tentu memang layaklah mahasiswa mendapat sebutan the agent of change, agen perubahan. Bagaimana bisa mahasiswa itu akan bisa merubah dunia, jika ternyata dia belum mampu bahkan belum berniat untuk merubah dirinya sendiri.
Lebih mengerucut ke bawah, kita coba lihat tepat dimana mading ini bernaung, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, bahwa disini ada mahasiswa “super”. Mahasiswa calon pendidik plus ada tambahan islami. Artinya para mahasiswa yang sedang belajar disini adalah orang-orang yang nantinya akan menjadi orang-orang yang tidak hanya diharapkan cerdas otaknya, tapi juga baik karakternya untuk bisa menjadi model, panutan bagi siswanya nantinya. Sebagai guru agama misalnya, apakah si mahasiswa (atau mahasiswi) hanya tahu materi-materi pembelajaran agama sebagai mata ajar di dalam kelas saja tanpa ada aplikasi dari konsep keagamaan (baca: keislaman) itu dalam kehidupannya sehari-hari atau bagaimana? Sedikit berani, kita coba lihat sebuah contoh, seorang mahasiswi FTK prodi PAI mempunyai akun Facebook; profile picture-nya foto mesranya dengan cowoknya, statusnya berpacaran. Astaghfirullahal aziim. Mungkin yang prodinya bukan PAI merasa aman; toh aku bukan calon guru agama. Lupakah dia bahwa disamping mata kuliah kejuruan yang dia dapat, dia juga mendapat mata kuliah agama yang tidak sedikit. Anda sedang disiapkan untuk menjadi guru kimia atau ekonomi yang islami.
Para mahasiswa yang dididik secara andragogis (pendidikan terhadap orang dewasa) dan bukan pedagogis (pendidikan terhadap anak-anak) tentunya bisa mempunyai thought (pemikiran) terhadap apa yang sedang dia lakukan dan apa yang ingin dia capai. Nah, sinkron tidak keduanya itu? Tentunya keingnan untuk menjadi guru yang baik dan hebat ada pada diri kita masing-masing. Pasti keinginan tersebut bisa tercapai dengan mulai melakukan perubahan; menimbulkan kesadarn untuk menjadi lebih baik. Atau pendidkan akan hanya akan menjadi suatu jalan untuk meningkatkan strata social; bahwa kita jadi sarjana demi kerja yang lebih baik? Jika demiak adanya, tentu anak kepala suku kanibal tadi tidak sendirian; dia punya teman memang tidak kanibal, tapi sama-sama tidak ada perubahan karakter dari pendidikan yang dilaluinya.
Mudah-mudahan tulisan ini bukan bentuk kelancangan dari penulis, tapi bukti sense of belonging (rasa memiliki) dan sense of loving (rasa sayang) terhadap kampus milik kita bersama ini yang tentu saja mempunyai semanagt untuk terus maju dan berkembang tentunya secara kualitas dan kuantitas. Mari berubah secara karakter (berhijrah). Semoga Allah mudahkan jalan bagi kita untuk itu, Aamiin.
(Subhan Shabri, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang, pelaku dan pemerhati pendidikan). Tulisan ini juga diposting di blog penulis subhanshabri.blogspot.com Kritik dan saran silahkan sampaikan ke email subhanshabri@gmail.com

Catatan:
Suatu hari redaktur mading ini bertanya kepada penulis, “Sir, is it okay for you to contribute your writing in our wall magazine?” Saya langsung jawab, “Why not?” Toh saya sudah banyak tulis artikel. Tapi ternyata artikel yang diminta tentang peran pendidkan dalam pembentukan karakter. “Wah, nulis lagi nih”, pikir saya. “But it’s okay. I like writing.” Dan inilah tulisan cepat disela-sela sibuk menulis hasil penelitian tesis. (disempat-sempatin)

Kamis, 23 April 2015

JIMAT USTADZ YANG BIJAK



JIMAT USTADZ YANG BIJAK
By MR SS
Alkisah ada seorang pedagang yang dagangannya tidak laku-laku. Sementara dia melihat pedangang lain disekitarnya tidak demikian. Padahal dia sudah memakai banyak jimat penglaris yang dia dapat dari beberapa dukun. Dia menyimpulkan bahwa dukun-dukun itu tidak hebat.
“Kayaknya aku harus minta jimat pada ustadz nih. Ustadz kan orang alim, tentu jimat dari ustadz pasti lebih hebat,” pikirnya.
Kemudian dia mendatangi seorang ustadz.
“Assalamu’alaikum, ustadz!” teriaknya dari luar rumah sang ustadz.
“Wa alaikum salaam warohmatullaahi wabarokaatuh. Silahkan masuk,” jawab sang ustadz.
Si pedagang menceritakan keadaan yang sedang dia hadapi, dan apa tujuannya datang.
“Begitulah ustadz, saya mau minta bantuan pada ustadz. Berilah saya jimat agar dagangan saya laris kembali, ustadz.” Katanya sambil memelas.
“Astaghfirullaahal’adziim!,” seru ustadz itu, “Saudaraku, jimat itu sesat. Hukumnya syirik, dan syirik adalah dosa yang tidak diampuni Allah. Jadi, sebaiknya, ....”
“Ustadz,” potong pedagang tersebut, “Saya kemari tidak minta ceramah. Saya datang minta bantuan ustadz, kalau ustadz tidak bisa bantu, tidak apa-apa. Saya pergi dulu. Saya bisa cari ustadz yang lain.” Dia langsung pergi tanpa mengucapkan salam.
Kemudian dia mendatangi ustadz yang lain. Dia menceritakan cerita yang sama ditambah lagi dengan apa yang terjadi dirumah ustadz pertama tadi.
“Itulah ustadz, bukannya ngasih jimat, eh malah ceramahin saya. Nah, ustadz bisa bantu saya kan?”
“Bisa, insya Allah,” jawab ustadz tersebut. “Ambil ini,” katanya sambil memberikan selembar kertas yang sudah dilipat kecil-kecil dan dibungkus dengan plastik.
“Oh terima kasih ustadz,” dia menerima kertas itu dengan wajah berseri-seri. “Ada syarat dan pantangannya ustadz?”
“Tentu saja. Pantangannya tidak boleh bohong, syaratnya anda harus sholat lima waktu. Tidak boleh tinggal satu kalipun. Satu minggu lagi anda kembali kesini. Anda paham?”
“Mudah itu ustadz. Jangan khawatir. Saya tidak akan berbohong lagi, he he biasanya emang sering sih ustadz. Dan, saya akan sholat terus. Saya janji, minggu depan saya datang lagi,” jelasnya.
Satu minggu kemudian si pedagang datang lagi ke rumah sang ustadz.
“Alhamdulillah, ustadz, dagangan saya sudah mulai laris lagi. Waduh, jimat ustadz emang sakti,” kata dengan bersemangat.
“Berarti anda tidak bohong lagi dan sholat lima waktunya tidak ada yang tinggal?” Tanya sang ustadz.
“Tentu saja ustadz. Kan itu syarat dan pantangannya,” jawabnya. “Apa lagi yang harus saya lakukan, ustadz?”
“Perbanyak sholat sunat, terutama sholat Dhuha. Cari buku cara melaksanakannya. Minggu depan anda kembali kesini.”
Tiap kali datang sang ustadz menyuruh pedagang tersebut untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang seharusnya dilakuan seperti bersedekah, puasa sunat, membaca Qur’an, dan lain-lain. Pedagang itu selalu patuh terhadap apa yang disuruh sang ustadz.
Suatu kali si pedagang itubertanya kepada ustadz tersebut.
“Ngomong-ngomong ustadz, kayaknya jimat yang ustadz kemarin gak ada gunanya ya?”
“Anda benar, dan anda sudah sadar berarti.  Rezeki yang anda dapatkan merupakan hasil dari ibadah-ibadah yang anda lakukan.  Silahkan buka kertas kemarin. Tidak ada tulisan apa-apa. Itu hanya akal-akalan saya saja. Sesungguhnya apa yang dikatakan ustadz yang dulu itu benar; memakai jimat itu syirik. Jika seseorang meninggal dalam keadaan syirik, maka dia akan kekal di neraka. Nah, sekarang yang perlu anda lakukan adalah merubah niat ibadah anda, bukan karena syarat ataupun pantangan jimat, tapi karena Allah SWT.” Ustadz tersebut menjelaskan. (Wallahu alam bisawab).

Senin, 13 April 2015

How useful are comprehension questions?
 
You may well ask me “How useful is the question in this title?” After all to check what a student has understood after listening to or reading an L2 text seems plain common sense. If it were not felt to be a sensible procedure why would course book writers supply comprehension questions in large quantities?
Teachers’ comprehension questions
Comprehension questions are a part of an EFL teacher’s arsenal that few people would regard as controversial. In ordinary conversation, in L1, it is quite normal to ask a comprehension question if you are unsure about what the other person has said. You might break into what they are saying and hypothesise: “Oh, so, do you mean that……?”
So, clearly, comprehension questions are a normal part of discourse. The difference is that, in normal conversation, it is the listener who decides to ask the speaker for clarification when he fails to follow what the other is saying. In the EFL class it is an external authority (course book/teacher) that initiates the comprehension checking.
When you come to think of it this is a very bizarre procedure: How on earth does a course book writer in North Oxford know where the linguistic difficulties in a reading passage will lie for a 16 year old in Cairo? Or a university student in Bangkok or a senior citizen in Hamburg?
One might reasonably expect that the undertow of Egyptian Arabic, Thai and German might affect the three learners differently in terms of their ability to comprehend the same passage.

Student comprehension

My first suggestion is that comprehension questions are the business of the students and no one else. One good way of dealing with a reading passage in class is to ask the students to read the text twice and then write 7 questions, each one aimed at a different, named classmate. The students themselves know, better than the teacher does, which classmate is likely to be able to give them an adequate answer. Once each student has written at least four questions, ask them to move around the room asking their questions and listening to the answers.
  • This procedure is respectful of the students’ right to find out what they feel they have not yet grasped.
  • This procedure links the course book passage to real people in the room.
  • This procedure reduces the teachers’ preparation time (if she is in the habit of creating her own comprehension questions.)

Deletion, elaboration and transformation
Yet there are other deeper reasons for doubting the usefulness of the comprehension question in second language reading and listening. The comprehension question is based on the notion that a listener or reader is a sort of CD-ROM that accurately holds the entire in-coming message. This can never be the case. The normal act of listening or reading is always one of deletion, elaboration and transformation.
  • The listener/reader will defocus from details that strike them as insignificant. These details will be deleted from the listener/reader’s memory.
  • The listener/reader will elaborate the text as it hits the auditory circuits of her brain - if she is listening to a story the elaboration will often be visual and the listener will create her own ‘inner film’.
  • In some cases the listener/reader will transform the text by framing it within previous experiences.

For example, I once told a group a tale about a wall girdling a town and the theme of the story was ‘fear’. One listener perceived the whole story in the political framework of the Berlin Wall and its breaching. This person ‘heard’ a much bigger story than I think I told.
Such deletion, elaboration and transformation are a part of the normal, everyday creativity of listening and reading. When I tell a story to 25 students my auditory text is replaced by 25 new texts in the students’ minds. It seems to me very bizarre to go back in time and ask my students language questions about the now ‘dead’ Mario text. Actually I would suggest that such questions are an insult to the students’ inevitable creative elaboration of the original text.

Alternatives to comprehension checking

So what can I do after telling the class a story? I can offer the students questions that help them explore each others’ elaboration. I ask the students to go through the questions below and cross out the ones they do not relate to. Once this deletion is effected I pair them and ask them to use the questions they have retained to get an idea of their partner’s elaboration. Here is a set of such questions:
  • In which sort of country did you imagine the story?
  • What kind of pictures did you get as you listened.
  • Did you create a sort of film from the story?
  • Were you ever actually in the same space as the character in the story?
  • What feelings did you have during the telling?
  • Did you become any of the characters?
  • What, for you, is the moral of the story?
  • Did this story remind you of other stories you know?
  • Did any of the characters seem like people you know?
  • Can you think of someone in this group who may have disliked the story?
  • Would your brother/mother/daughter/father like this story? Why would they like it?
  • At which point in the story did you really start listening?
  • Which was the most vivid bit for you?
  • At which points in the story did you drift off and think of other things?

The list of questions could be much longer and more detailed, but you will notice they all focus on the students’ elaborated text and on their reactions to the text. None are about details of the original text.
“Very nice” I can hear some readers saying” but what if the students did not understand the language during the telling?”
My answer to this is that the teacher/teller needs to make sure she gets her meaning across by using mime, drawing and L1 glosses on words or phrases that may be hard for students. It is the teller’s job to ensure language comprehension as she tells, and I believe minimal, disciplined recourse to L1 is natural in this situation.

Conclusion

By the time you get to this point in your reading, the lines you have read will have undergone deletion, elaboration and transformation in your mind. As you get up to get yourself a coffee and think back over these lines, you carry in your head your own unique reading of this text. Thank God you are a normally creative reader and not a tape-recorder with the ‘Record’ button down. Do I really need to write comprehension questions on your behalf?

Jumat, 20 Maret 2015

FAKTA MENARIK TENTANG ABRAHAM LINCOLN DAN JOHN F KENNEDY



FAKTA TENTANG ABRAHAM LINCOLN DAN JOHN F KENNEDY
1.       Lincoln terpilih menjadi anggota Kongres tahun 1846, Kennedy tahun 1946. (Beda 100 tahun).
2.       Lincoln dipilih sebagai presiden tahun 1860, Kennedy tahun 1960. (Beda 100 tahun).
3.       LINCOLN dan KENNEDY terdiri dari 7 huruf.
4.       Keduanya amat terlibat dalam memperjuangkan hak-hak sipil untuk orang negro.
5.       Kedua presiden tsb mati tertembak di kepala bagian belakang.
6.       Mereka terbunuh disamping istri masing-masing.
7.       Pembunuhan tsb sama-sama hari Jum’at.
8.       Masing-masing istri kehilangan anak laki-laki ketika tinggal di Gedung Putih.
9.       Lincoln ditembak di Ford Theatre, sedangkan Kennedy ditembak di atas mobil Lincoln, yang dibuat pabrikan Ford.
10.   Lincoln ditembak saat di teater, pelakunya kemudian melarikan diri ke sebuah gudang. Sebaliknya, pembunuh Kennedy menembak dari gudang, lalu bersembunyi ke dalam sebuah teater.
11.   Pembunuh Lincoln, John Wilkes Booth lahir tahun 1839 sedangkan pembunuh Kennedy, Lee Harvey Oswald lahir tahun 1939. (Beda 100 tahun).
12.   Nama kedua pembunuh tsb sama-sama 15 huruf.
13.   Kedua pembunuh tsb berasal dari selatan.
14.   Kedua pembunuh tsb terbunuh sebelum sempat menjalani sidang pengadilan.
15.   Seminggu sebelum Lincoln tertembak ,dia berada di Monroe, Maryland.
Seminggu sebelum Kennedy tertembak, dia bersama Marylin Monroe.
16.   Nama depan sekretaris pribadi Lincoln adalah John, nama belakang sekretaris pribadi Kennedy adalah Lincoln.
17.   Sebelum pembunuhan terjadi, kedua sekretaris tsb sama-sama melarang sang presiden untuk pergi, dan kedua presiden tersebut menolak.
18.   Pengganti Lincoln bernama Andrew Johnson, pengganti Kennedy bernama Lyndon Johnson.
19.   Andrew Johnson lahir tahun 1808, Lyndon Johnson lahir tahun 1908. (Beda 100 tahun).
20.   Nama kedua pengganti tersebut sama-sama 13 huruf.
21.   Kedua pengganti tsb sama-sama mantan senator dari daerah selatan.
Dari berbagai sumber.